Ki Hanuraga

Ki Hanuraga

Ketua Angkatan III - Ki Hanuraga

Ketua Angkatan III , Ki Hanuraga atau Ksatria Suling Gading , Pediksan Sesepuh pada abad ke 9-caka tahun ke 92-bulan ke 6 hari ke 15 ( caka warsa 892 )

Ki Hanuraga merupakan Sesepuh Generasi III, beliau berasal dari tanah Jawa yang dititipkan oleh orang tuanya ketika masih merah kepada KI Mudra dan Ki Madra sebelum kedua orangtuanya tewas dalam pertempuran dengan beberapa pesilat Bali Dwipa, selanjutnya Hanuraga kecil di titipkan kepada keluarga petani yang tidak memiliki anak oleh KI Mudra dan Ki Madra. berikut adalah kutipan Parampara Perguruan mengenai kisah Ki Hanuraga :

Sang Mahayogi bertutur kata, Anakku namamu Hanuraga, Asalmu dari tanah Jawi, Orang tuamu menitipkanmu padaku, Untuk dididik menjadi ksatria. Ketika itu engkau masih orok merah
maka kutitipkan dilembah bawah, pada keluarga petani yang tiada anak, untuk diasuh bagai anak sendiri, Suling Mungil tanda pengenal dariku, Perlambang keagungan Puncak Barat, Paiketan Paguron Suling Dewata, Di Pertapaan Candra Parwata, Di Puncak Gunung Watukaru yang Indah
Tempat berkumpulnya para Yogi. disinilah engkau akan dididik, menjadi kesatria mumpuni
menjadi lelananging Jagat, ditempat Ilmu Kawisesan dan Kamoksan,
Lupakanlah segala asal-usulmu, Disinilah sekarang rumahmu, Semua Yogi ini adalah saudaramu
Dalam kelahiranmu yang kedua, Kelahiran karena Ilmu Pengetahuan,

dibawah bimbingan sepasang Mahayogi, Hanuraga berlatih tiada henti Ditempa teriknya matahari, Diabawah guyurang hujan, Didalam kegelapan malam, Berlatih tanpa mengenal lelah, Mengulah pelajaran tanpa henti. Tahan terhadap rasa sakit dan rasa lelah, Tujuannya hanya Satu meneruskan tradisi nenek moyang, Nenek Moyang Bali Dwipa, Demi keagungan Puncak Barat.
KI Hanuraga , berkelana ke seluruh Nusantara sebanyak tiga kali, bahkan sampai ke Langkapura, Jambu Dwipa , Tibet, Tionggoan, dan Jepun , seperti dikisahkan berikut :

Perjalananku berkelana , keseluruh daerah di Nusantara nan indah
seluruhnya sebanyak tiga kali, kutulis dalam sebuah buku ; Kisah Ksatria Suling Gading”
pertarungan demi pertarungan.
hamba Ki Hanuraga, Yang oleh dunia Persilatan sering disebut, Ksatria Suling Gading, Menulis dua buah buku ilmu silat yaitu , “Ilmu Silat Patah Hati dan Seribu Sungai Menyatu di Lautan ” yang disebut belakangan mampu memperluas pandangan pesilat
tentang Ilmu Silat.

diceritakan bahwa saat berkelana untuk pertama kalinya dan sampai di Jawa Dwipa, bertepatan dengan gemparnya dunia persilatan Jawa Dwipa yang sedang geger dan heboh dengan kedatangan pesilat tangguh dari negeri seberang nan jauh, pesilat bekulit kuning bermata sipit dari dataran luas Tionngoan, dengan ilmu aneh Thi Khi Ibeng, seluruh pesilat Jawa Dwipa terpaksa tunduk dan takluk serta bertekuk lutut harena harus ikhlas menerima kekalahan dan tiada satupun mampu menandingi pesilat tangguh bermata sipit malang melintang tiada lawan. jodoh telah menentukan Ki Hanuraga bertemu dengan pesilat tangguh bermata sipit dari dataran luan Tionngoan, dan kesempatan pertama bagi Ki Hanuraga menjajal ilmu Tenaga Sakti Isap Bhumi, bertarung seru mempertaruhkan nyawa demi keanggungan puncak barat ( Puncak Watukaru ), dengan bertarung hidup dan mati dengan ilmu sama saling menyedot , akhirnya Ilmu Silat Isap Bhumi menunjukan keunggulannya dengan mengalahkan ilmu Thi Khi Ibeng yang dahsyat yang mengalahkan seluruh pesilat Jawa Dwipa, dapat dikalahkan oleh Ki Hanuraga dengan mudah, tenaga dalam pesilat Tionngoan tersedot habis, dan tenaga Ki Hanuraga meningkat pesat, karena semua tenaga dalam pesilat pesilat Jawa Dwipa yang sebelumnya di isap oleh ilmu Thi Khi Ibeng berkumpul di dalam tubuh Ki Hanuraga, pertarungan pertama dengan pesilat yang maha tangguh nerupakan pertarungan pertama yang tidak terlupakan oleh Ki Hanuraga. ( di sadur dari buku Kisah Ksatria Suling Gading, halaman 74-75 )

Ki Hanuraga mendidik dan membina ratusan Yogi dan Yogini, namun diantaranya terdapat 24 orang yang terkenal dan sering membantu Perguruan diantaranya : Ki Tepus, Ki Nara, Ki Kroya, Ki Lingga, Ki Basarang, Ki Sindu, Ki Panung, Ki Dipa, Ki Giri, Ki Kepakisan, Ki Karang, Ki Wengi, Ki Damar Sakti, Ki Pujut, Ki Corok, Ki Kelingkung, Ki Bebalang, Ki Rumpuh, Ki Sangal, KI Daha, Ni Lubani, Ni Sari, Ki Amanagapa, Ki Barata

Sumber : serulingdewatabali