Ki Goplo

Ki Goplo

Sesepuh Pemula - Ki Goplo

Ki Goplo adalah salah Seorang siswa dari perguruan Bulan Sabit atau Paguron Arda Candra Cabang Seruling Dewata yang masih hidup , ketika terjadi perang puputan antara Perguruan Arda Candra dengan Perguruan Surya .Perlu diketahui bahwa di Bali Dwipa pada jaman Bali Lawas terdapat 2 ( dua ) buah Perguruan Besar yaitu Paguron Ardha Candra dan Paguron Surya, Paguron Surya memiliki 11 Cabang sedangkan Paguron Ardha Candra memiliki 12 cabang , Paguron Suling Dewata adalah salah satu cabang dari Paguron Ardha Candra , dan perlu juga diketahui bahwa kedua perguruan besar ini , Paguron Ardha Candra dan Paguron Surya memiliki hubungan yang kurang harmonis dan terjadi dendam secara terun termurun yang berakhir dengan perang puputan diantara ke dua Perguruan besar tersebut yang mengakibatkan musnahnya kedua Perguruan besar tersebut , Perang Puputan selama tujuh hari siang dan malam dan terjadi dibeberapa tempat di Bali Dwipa dan diakhiri dengan perang Puputan di Puncak Gunung Batur dimana kedua perguruan besar tersebut menghimpun kekuatan tenaga yang Maha dahysat , Paguron Surya melahirkan himpunan yang diberi nama ” ” Nadwityam Suryam ” atau Tiada Keduanya dibawah Sang Surya ” , sedangkan Paguron Ardha Candra melahirkan himpunan yang diberi nama ” Surya Darryam Candra Kertalam ” atau Matahari Terbit Rembulan Muncul ” semua pertapa Paguron Surya meninggal dalam perang di Puncak Gunung Batur tersebut , sedangkan pertapa dari Paguron Ardha Candra ada seorang yang masih hidup dengan luka yang sangat parah, pertapa tersebut bernama I Goplo. Ki Goplo yang nantinya dikenal dengan sebutan Ki Suling ( Ki adalah sebutan kehormatan untuk seorang Maha Guru ). I Goplo atau Ki Suling dengan Luka yang teramat parah pada saat terjadinya Perang Puputan , kembali ke pertapaannya yang bernama Pertapaan Gunung Bulan ( Candra Parwata ), di puncak Gunung Batukaru paling barat ( salah satu dari 7 puncak Gunung Batukaru ). Di pertapaan Gunung Bulan inilah Ki Suling memendam diri selama puluhan Tahun untuk mengobati dirinya dan memperdalam ilmu silatnya, dan selama itu pula di Bali Dwipa , dunia persilatan mengalami kehampaan ( masa suram ).Ki Goplo atau yang dikenal dengan sebutan Ki Suling , menutup diri dari dunia luar dan melarang para yoginya untuk turun gunung , sementara orang luarpun tidak ada yang berani naik ke Puncak barat Gunung Watukaru, dan tidak ada satupun pula pesilat ali Dwipa dengan berbagai ilmu silat yang dimilikinya berhasil naik ke puncak barat, karena setiap orang yang mencoba naik akan dibuat tidak berdaya oleh para Yogi Ki Suling dan menaruhnya kembali di kaki gunung. Hal ini pulalah yang menyebabkan Pertapaan Candra Parwata menjadi terasing dan keberadaanya hampir tidak ada yang mengetahuinya. salah satu keanehan dari Puncak Barat Gunung Watukaru adalah terdengarnya alunan suling yang sangat merdu setiap bulan Purnama selama satu hari satu malam, alunanya begitu lembut, sejuk, dan tenang yang bisa didengar diseluruh Jagat Bali Dwipa, dan masyarakat Bali Dwipa menyebutnya dengan Alunan Suling Dewa atau Kumandang Suling Dewata., diantara beberapa yogi dan Yogini yang dibina oleh Ki Suling adalah :
Ki Bitaksa, Ki Angsang, Ki Kepel, Ki Bintara, Ki Wangsing, Ki Nanggal.

Sumber : serulingdewatabali