Ki Budhi Dharma

Ki Budhi Dharma

Ketua Angkatan I - Ki Budhi Dharma

Ketua Angkatan I , Ki Budhi Dharma atau Ki Byanlu Syamar atau Biksu Darmo , Pediksan sesepuh tahun ke 63 bulan ke 11 hari ke 26 ( caka warsa 463 / 542 masehi )

Pada abad ke V caka datanglah ke Bali Dwipa seorang pendeta Budha ahli silat yang masih muda dari Jambu Dwipa yang bernama Ki Byanlu Syamar atau Pangeran Jayawarman atau Ki Budhi Darma, dan di Bali dikenal dengan sebutan Biksu Dharmo, Ki Byanlu Syamar menguasai Kundalini, Ilmu Kundalini Saktinya sangat sempurna yang di pelajarinya selama 40 tahun dari seorang Maha Guru di Jambu Dwipa yang bernama Swami Prajnatara. Bi Budhi Dharma adalah seorang pangeran di tanah Jambu Dwipa, seperti yang dituturkan dalam Parampara Perguruan Seruling Dewata : •  Nama kecilku adalah Byanlu Syamar. Aku dilahirkan di sebuah kerajan kecil di Jambu Dwipa ( India ), tepatnya di suatu daerah yang indah, subur menghijau yang bernama Kanchipuram – Baramon dekat Madras . Raja Sugandha adalah Ayahku. Aku adalah putra tertua yang selalu disitimewakan. •  Bahkan dikala berusia enam belas tahun dengan upacara meriah Aku dinobatkan menjadi Pangeran mahkota dengan Nama baru JAYA WARMAN . Di kala itulah datang seorang pendeta dengan prabawa kesucian yang luar biasa, yang ucapannya mampu menentramkan hati nuraniku, aku merasa tentram berada didekatnya. Dikala mendengar berita yang menggetarkan seluruh istana Adikku minggat meninggalkan istana, karena ingin menjadi Putra Mahkota yang nantinya menggantikan ayahanda menjadi seorang raja, akhirnya bulatlah tekadku, demi kasih saying kepada adikku, maka dihadapan pembesar istana, kalau adikku ditemukan akan kuberikan gelar Putra Mahkota yang kusandang, Adapan tujuannya datang ke Nusa Ning Nusa ( Nusantara ) i adalah untuk menyebarkan agama Budha. •  Dengan sedih hati aku meninggalkan kerajaan tempat kelahiranku. Pergi merantau kekerajaan lain sambil menyebarkan ajaran Sang Buddha. Namun selalu saja ada utusan prajurit negeri ku yang ingin membunuhku secara diam-diam, akhirnya aku terpaksa berkelana lebih jauh lagi meninggalkan Jamu Dwipa ( India ) tujuanku satu yaitu Nusa Ning Nusa atau Nusantara ( Indonesia ). •  Aku teringat perkataan para pengelana yang pulang dari melanglang bhuana bahwa Nusa Ning Nusa ( Nusantara atau Indonesia ) adalah Gudangnya orang-orang suci dan orang-orang sakti, bahkan para pengelana ke Nusa Ning Nusa, tapi tidak sampai di watukaru maka sia-sialah perjalanannya. •  Dalam perjalanan ke Nusa Ning Nusa ( Nusantara) berbagai daerah baru dilewati setiap daerah yang kulewati aku menyebarkan ajaran sang Buddha, banyak para penjahat yang telah ku temui kukalahkan dalam pertarungan baru mau menerima ajaran sang Budhha dan akhirnya mendapatkan kesadaran dan menjadi orang baik. Di Bali Dwipa, Ki Budhi Dharma bertemu dengan Ki Suling yang ahli Filsafat Seruling Dewata, juga ahli Ilmu Silat dan juga ahli Pengobatan . dan keduanya sempat berdiskusi dan dari hasil diskusi tersebut Budhi Darma merasa tunduk kepada kemampuan Ki Suling dalam lmu Silat , Ilmu Pengobatan , dan terutama Ilmu Filsafat Kebajikannya,sehingga akhirnya Budhi i Dharma sendiri akhirnya berguru kepada Ki Suling. Ki Budhi Dharma sendiri diselamatkan oleh Ki Suling setelah bertempur dengan empat pendekar pilih tanding yang mengangkat diri mereka sebagai ” Empat Pesilat Tanpa Tanding ” pada abad ke 4 tahun Caka 96 ( sekitar 474 masehi ) karena satu sama lainnya memiliki kemampuan yang sama pada saat bertarung memperebutkan Gelar ” Kesatria Lelanganing Jagat ” , Gelar Kesatria Lelanganing Jagat ini pada jaman dahulu diperebutkan oleh semua pesilat di Bali Dwipa setiap tiga tahun sekali dan pemenangnya disamping mendapat julukan ” Kesatria Lelanganing Jagat ” juga berhak mendapatkan “Mustika Matahari “yang merupakan Peninggalan ” Paguron Surya “, ke empat pendekar tersebut adalah : I Manasara, pesilat dari Gunung Batur, I Pisana , pesilat dari Gunung Agung, I Krengga, pesilat dari puncak kedua Gunung Watukaru, dan I Cangkreng , pesilat dari Pulau Karang di selatan Bali Dwipa. keempat pesilat tanpa tanding inipun berhasil dikalahkan oleh Ki Suling , serta memberikan nasehat rohani kepada keempat pesilat ini sebelum mereka bertapa seumur hidup serta tidak akan mencampuri urusan dunia persilatan .•  Setelah lama kami berdua berdiskusi masalah ILMU KEBAJIKAN – ILMU SILAT- ILMU PENGOBATAN aku benar-benar mengakui kehebatan kemampuannya, jauh diatas kemampuan guru-guru ku sebelumnya, inilah yang selama ini kucari, aku telah sampai pada ujung harapan maka, tanpa buang waktu segera aku memohon agar diterima sebagai muridnya. dengan senag hati menerimaku sebagai muridnya yang terakhir, pada saat itu juga mahaguru Ki Suling mengajariku TIRTA PRANAYAMA atau Ilmu Pernapasan Air dan SAHASRA KARTIKA WIKRIDITA atau ilmu Langkah Seribu bintang, serta dihadiahi sebuah suling bamboo, dia merasa sudah tua, tidak mampu lagi mengajar dengan baik, maka setelah menguasai kedua ilmu yang diajarkan aku disuruh ke GOA SUNIA MANDALA dan belajar sendiri, disana sumbernya ilmu Seruling Dewata Budhi Dharma akhirnya berhasil menguasai ke 72 macam ilmu silat dari Perguruan Bulan Sabit Cabang Seruling Dewata, serta mendirikan Perguran Silat Baru di Bali Dwipa pada abad V Caka, tahun ke 63 ( 641 Masehi ) , bulan ke 11 hari ke 26 dengan nama Perguruan Seruling Dewata dengan Ki Budhi Dharma sebagai Ketua Angkatan I . Para Siswa yang berlatih bersama di bawah bimbingan lansung Ki Byanlu Syamar dan menjadi pemimpin golongan adalah : Ki Mudra, Ki Madra, Ki Druma, Ki Sikapa, Ki Kedung, Ki Rencang, Ki Buntar, Ni Ambarawati. Ki Budhi Dharma menciptakan dua buah ilmu silat tanpa wujud yang Maha Dahsyat yang salah satunya adalah Ilmu Silat Maha Maitri atau Ilmu Silat Maha Cinta Kasih .