Ki Mudra dan Ki Madra

Ki Mudra & Ki Madra

Ketua Angkatan II - Ki Mudra & Ki Madra

Ketua Angkatan II , KI Mudra dan KI Madra , Pedikan Sesepuh abad 6 caka, tahun 96, bulan ke 7-hari ke 15 ( caka warsa 596 )

Sesepuh generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata adalah sepasang Mahayogi kembar yang bernama Ki Mudra dan Ki Madra, beliau adalah siswa yang dibina dan dituntun secara langsung oleh Ki Byanlu Syamar ( Budhi Dharma ), sesepuh Generasi I Paiketan Paguron Suling Dewata. Ki Mudra adalah pemimpin siswa dari golongan Tanah yang ahli dalam pertarungan di darat, sedangkan Ki Madra adalah pemimpin siswa dari golongan Air yang ahli dalam pertarungan di Air. Dari 72 macam ilmu silat Bali Kuno yang dipelajarinya KI Mudra dan KI Madra paling ahli dalam menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti yang disebut “Sheru Cakti Yoga Cara Bhumi Castra “, dan dalam pertarungan pertarungan diseluruh Bali Dwipa dalam masa pengembaraannya Ki Mudra dan KI Madra selalu menggunakan Ilmu Silat Harimau Sakti sehingga akhirnya dunia persilatan Bali Dwipa pada Masa itu menjulukinya dengan sebutan : ” Macan Gunung Watukaru “. Yang paling istimewa adalah Ki Mudra dan Ki Madra berhasil berlatih ilmu yang sangat Langka dalam Paiketan Paguron Suling Dewata yang dinamakan “Ilmu Wayangan Sumpene”, atau Ilmu bayangan mimpi , ilmu langka ini sangat istimewa hanya bisa dilatih oleh sepasang orang bersaudara kembar bahkan Ki Byanlu Syamar ( Budhi Dharma, sendiri tidak mampu mempelajari/berlatih ilmu langka Wayangan Sumpene ini.Inti sari dari ilmu Wayangan Sumpene ( Bayangan Mimpi ) ini , syaratnya ada dua orang kembar yang sehati, saling melindungi dan berani berkorban nyawa untuk menyelamatkan satu sama lain. Diawali dengan keduanya berlatih meditasi sedikitnya 15 tahun sampai mencapai tingkatan atau tahapan tertentu yang dinamakan “Pemungkas Sukma “, yaitu mengeluarkan jiwa dari raganya dan memungkas yaitu memisahkan antara jiwa dan raga yang bersangkutan. Selanjutnya pada puncak latihan kedua orang kembar secara bersamaan melakukan meditasi Pamungkas Sukma dan mengeluarkan jiwa dari raganya, kemudian dengan kekuatan bathin yang luar biasa Ki Byanlu Syamar menukar jiwa kedua orang kembar tersebut, sukma atau jiwa KI Mudra dimasukkan ke dalam raga Ki Madra dan dalam waktu yang bersamaan sukma atau jiwa Ki Madra di masukan ke dalam raga Ki Mudra. Penguasa ilmu langka Wayangan Sumpene ini tidak merasa sakit apabila badannya kena pukul atau kena tendang bahkan tertusuk senjatapun tidak merasa sakit dan tidak dapat dibunuh oleh siapapun sepanjang kembarannya masih hidup.
Dengan ilmu langka Wayangan Sumpane ini Ki Mudra dan Ki Madra dapat mengalahkan saudara seperguruannya yang satu angkatan dalam pertarungan adil satu lawan satu bahkan dapat mengalahkan Ki Byanlu Syamar ( Budhi Dharma ) sendiri. Ki Mudra dan Ki Madra didiksa sebagai sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata dihadapan Ki Goplo ( Ki Suling ), sesepuh pemula pada abad ke 6 caka – tahun ke 96-bulan ke 7-hari ke 15 atau caka warsa 596. Selama memimpin perguruan sebagai sesepuh Generasi II Paiketan Paguron Suling Dewata membina dan menuntun ratusan yogi dan yogini , beberapa diantaranya yang terkenal adalah : Ki Hanuraga, Ki Kolot, Ki Nara Utama, Ki Nedeng , Ni Selasih , Ki Anturan, Ki Pujut , Ki Nala, Ni Kusambi, Ki Sada , Ki Herlangga , Ki Catus , NI Tunggali , Ni Lubani , Ni Rabut , Ki lebah , KI Kodong. Pada saka warsa 892 Ki Mudra dan Ki Madra, mengundurkan diri sebagai sesepuh setelah menyerahkan wasiat kepada salah seorang muridnya yang bernama Ki Hanuraga untuk menjabat sesepuh generasi ke III Paiketan Paguron Suling Dewata, selanjutnya pada masa akhir kehidupannya KI Mudra dan KI Madra meneliti dan menyempurnakan ilmu silatnya serta berhasil menciptakan ilmu silat yang Maha Dahsyat yang dinamakan : Ilmu Silat Maha Manusia . lmu silat ini mengembangkan semua organ tubuh manusia sehingga menjadi kekuatan penghancur yang maha dahsyat seperti : Pikiran, Rambut, Mata, Ludah, Ingus, Keringat, Detak Jantung, Bersin, Batuk, bahkan kentut dapat berkembang menjadi kekuatan penghancur dan pembunuh yang maha dahsyat. Setelah berabad abad hidup terus belum juga meninggalkan dunia ini karena menguasai ilmu langka Wayangan Sumpene akhirnya keduanya merasa bosan hidup lalu keduanya sepakat mengakhiri hidupnya dengan saling menyerang satu sama lain dalam waktu yang bersamaan sehingga hancur musnah menjadi debu karena kedahsyatan serangan masing-masing.

Sumber : serulingdewatabali